Penulisan dan Penghafalan Al-Qur'an Pada Masa Rasulullah SAW

Pada zaman Rasulullah SAW dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar, ilmu-ilmu Al-Quran belum dibukukan, karena umat islam belum memerlukannya. Sebab umat islam pada waktu itu adalah bangsa Arab asli sehingga mereka mampu memahami Al-Qur’an dengan baik, karena bahasa Al-Qur’an adalah bahasa mereka sendiri dan mereka mengetaahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an. Oleh karenanya jarang sekali sahabat yang bertanya kepada Nabi tentang maksud-maksud ayat.

Ayat Al-Qur’an tidak dikumpulkan atau dibukukan seperti sekarang. Karena disebabkan beberapa faktor, maka ayat Al-Qur’an mulai dikumpulkan atau dibukukan, yaitu dikumpulkan dalam satu mushaf.[1] Pengumpulan Al-Qur’an pada masa nabi hanya dilakukan pada dua cara yaitu dituliskan pada benda-benda seperti yang terbuat dari kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah kurma, tulang binatang dan lain-lain. Tulisan-tulisan dari benda-benda tersebut dikumpulkan untuk Nabi dan beberapa diantaranya menjadi koleksi para sahabat yang pandai baca tulis.

Rasulullah telah mengangkat para sahabat-sahabat terkemuka untuk menulis wahyu Al-Qur’an, yaitu: Ali, Muawiyah, Ubai bin K’ab dan Zaid bin Sabit, jika ayat turun ia memerintahkan mereka menulis dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati. Sebagian sahabat menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas kemauan sendiri, tanpa diperintah nabi.

Al-Qur’an turun kepada Nabi yang Ummi (tidak bisa baca-tulis) dan diutus Allah di kalangan orang-orang yang Ummi. Karena itu perhatian Nabi hanyalah menghafal dan menghayati agar beliau dapat menguasai Al-Qur’an yang diturunkan. Rasulullah sangat menyukai wahyu, beliau senantiasa menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya. Seperti yang dijanjikan Allah:

¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (al-Qiyamah: 17).

Proses turunnya Al-Qur’an terkadang turun hanya satu ayat dan kadang sampai sepuluh ayat. Setiap kali ayat turun kemudian dihafal didalam dada dan ditempatkan dalam hati. Bangsa arab secara kodratnya memunyai daya hafal yang kuat, karena umumnya mereka buta huruf.
Previous
Next Post »